Fenomena Ponari
February 22, 2009
Hampir 2 minggu belakangan ini, nama Ponari, dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang ini begitu sering muncul di media. Dari semula hanya seorang bocah kecil dari pelosok, sekarang sosok Ponari sangat mendapat perhatian sampai ke Menteri Agama. Kehebatannya (entah ini benar atau tidak) menyembuhkan penyakit dengan mencelupkan batu temuannya ke air tersebar dari mulut ke mulut begitu cepat. Hanya dalam waktu singkat, pasien berbondong-bondong dari pelosok negeri ini. Mereka rela antri berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk mendapat air yang telah dicelupi batu sakti milik Ponari. Konon, dari praktik barunya ini, Ponari telah menghasilkan uang milyaran rupiah. Lalu, apa yang membuat masyarakat begitu percaya akan kehebatan Ponari? Cerita ini bermula sekitar 3 minggu lalu, ketika itu, seperti bocah kecil lainnya, Ponari bermain-main ketika hujan. Seperti biasa, hujan selalu diiringi oleh sambaran petir. Ponari dan teman-temannya tidak memperdulikan. Entah karena apa, tiba-tiba Ponari kecil ini mendadak merasakan kepalanya dihantam sesuatu bersamaan dengan suara petir. Seketika itu pula, Ponari merasakan panas di sekujur tubuhnya. Beberapa saat kemudian, Ponari menemukan batu di bawah telapak kakinya. Menurut cerita Ponari, batu yang ditemukannya itu mengeluarkan sinar berwarna merah. Akhirnya Ponari membawa pulang batu itu. Sesampai di rumah, Ponari menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada kelaurganya. Dan anehnya, orang tua Ponari meminta batu itu dibuang saja. Dan benar saja, batu itu dibuang ke semak belukar di belakang rumah. Tapi anehnya, batu itu kembali ke tempat semula. Semenjak itu Ponari menyimpan batu itu. Kebetulan salah seorang tetangga Ponari ada yang sakit demam tinggi selama 2 hari. Tanpa ada yang meminta, Ponari memberikan air yang telah dicelupi batu miliknya. Setelah meminum air itu, secara instan, tetangga Ponari itu langsung sembuh seperti sedia kala. Sejak itulah, kehebatan Ponari menyebar dari mulut ke mulut.











Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed